Bintang yang tidak Sanggup Aku Petik


Masih terngiang-ngiang dengan indah kata-katamu
nyanyian merdu suaramu
rasa itu menyesakkan dadaku
cukup air hujan yang membasahiku air mata ini tak akan ku jatuhkan untuk menyesali dirimu

Rasanya ingin ku maki-maki semua orang yang tertawa di kantor pagi ini. Semudah itu mereka bahagia dan terbahak-bahak di depanku. Guyonan murahan apa yang membuat mereka bahagia, aku tak peduli, tak semudah itu aku bisa tertawa lepas dengan candaan recehan macam itu, batinku ketika memasuki kantor tempatku bekerja.

Pandanganku berlari-lari kesana kemari, dari sebelah kiri hingga ke sisi ujung kanan mencari sahabatku, sahabat yang sudah seperti kakakku sendiri, dia selalu memberiku saran dengan kata-kata bijaknya, dan dia selalu berkata "Lia... Aku bosan mendengar cerita asmaramu yang tak jelas itu!". Ya kak Firman sudah  cukup hafal dengan ku, karena semua kisah asmaraku selalu berakhir di telinganya.

Kemana laki-laki itu batinku, sekian detik aku berhenti mencarinya, tiba-tiba ada yang mengusap rambutku sambil berkata "Hai manis, kamu begadang lagi? Atau kamu habis nangis?" Tanya kak Firman, sambil menahan tawa karena melihat wajahku yang cukup memelas di pagi ini.

Aku mau cerita kak!, "Lia berbicara pendek".

"Lia... Aku bosan mendengar cerita asmaramu yang tidak jelas itu", tapi nanti saja pulang kerja kita ngobrolnya sambil menemaniku ngopi, kata kak Firman. 

Ada perasaan lega ketika kakakku yang satu ini tahu apa yang aku pikirkan. Sambil menatap wajahnya aku menarik bibirku membentuk sebuah senyum yang sangat ku paksakan, "Oke kak, Makasih ya", tanpa kata-kata dia meninggalkanku sambil mengusap rambut di kepalaku lagi yang masih basah karena hujan tadi.

Setelah pulang kerja kami langsung menuju tempat ngopi yang sudah ditentukan. Menunggang Vespa tua milik kak Firman, yang aku yakin usia Vespa ini jauh lebih tua dari usia kak Firman, tapi mampu melaju dengan gagah di tengah kemacetan lalu lintas sore ini.

Setelah sampai dan pesanan kami datang, kak Firman langsung menikmati kopinya perlahan. Setelah tegukkan pertama, kak Firman langsung berkata "Ada apa lagi Lia, Masih soal laki-laki yang kemarin kamu ceritakan?".

"Iya kak, aku sudah mendapatkan semua jawaban yang selama ini aku inginkan, tapi jawabannya seperti yang kamu bilang kak waktu itu" ucap Lia sambil menunduk, menyembunyikan kesedihan yang masih dapat di lihat dari wajahnya.

Emang dia ngomong gimana lia? "Tanya kak firman penasaran.

Dia belum pengen pacaran, katanya enak temenan, katanya kak "jawab Lia".

Beberapa hari yang lalu aku menceritakan laki-laki yang tengah dekat denganku pada kak Firman, dia menjadi pendengar yang baik.

"Kak menurutmu gimana, saat ini aku sedang dekat dengan seseorang, kami sudah beberapa kali jalan bareng, dari sekedar makan malam sampai nonton kak, jujur aku suka banget sama dia, manisnya itu bikin aku baper kak" Lia mulai cerita tentang seseorang yang tengah di gandrunginya.

"Lalu?" Tanya kak Firman.

"Lalu apanya kak?" Lia balik tanya.

"Lalu apa yang selanjutnya kamu inginkan dari dia?" Kak Firman memperjelas pertanyaannya.

"Aku ingin dia bisa jadi pasanganku, aku suka banget sama dia, aku nyaman sama dia kak" Jawab Lia.
"Apakah kamu udah yakin sama dia?" Kak Firman masih ingin tahu sosok yang dekat dengan Lia.

"Belum kak" jawab Lia singkat.

"Kenapa?" Tanya kak Firman.

"Sepertinya dia masih belum bisa berkomitmen kak, masih labil juga, dan sepertinya dia masih belum bisa move on" jawab Lia.

"O gitu... Coba kamu tanyakan lagi pada dia. Gini Lia, ketika kamu mengangkat beban berat, kamu tak akan kuat mengangkat sendiri, kamu butuh bantuan orang lain, yaitu dia, jika ingin memperjuangkan cinta, ajaklah pasanganmu. Terlalu sulit ketika membawa beban berat sendirian, dan kamu tahu, yang akan merasa kesakitan hanya kamu, tubuhmu tak akan sekuat tekatmu, jadi coba tanyakan saja ke dia, tapi menurutku sih dia akan menolakmu atau jika dia menerimamu belum sepenuhnya dia suka sama kamu, bisa saja kamu cuma jadi pelampiasan dia". Kata kak Firman.

"Baik kak, besok akan ku coba tanyakan" jawab Lia singkat, yang sudah tidak memiliki gairah lagi untuk mengagungkan pujaannya itu.

*Di kedai kopi*

"Lalu apa yang kamu inginkan sekarang?" Tanya kak Firman santai.

"Aku nggak tahu kak" Jawab Lia singkat dengan tatapan kosong.

"Lia, sudahlah dia bukan laki-laki terbaik buatmu" ucap kak Firman, sambil mengenggam tanganku yang mungil.

"Iya kak, tapi apa yang harus aku lakukan, aku bingung dengan keadaanku ini" sahut Lia dengan wajah memelas.

"Kamu masih muda Lia, kamu juga cantik, pasti banyak laki-laki diluar sana yang mau sama kamu, tidak seperti laki-lakimu yang tidak jelas itu". Kak Firman meyakinkanku dengan mengenggam tanganku lebih erat.

"Lia, sabar ya, Tuhan pasti akan memberikanmu laki-laki yang sesuai keinginanmu, tapi kamu harus bisa menjadi wanita yang bisa menerima keinginannya dia. Kalau kamu ingin punya pasangan yang baik, jadilah wanita yang baik, kalau kamu ingin laki-laki yang tampan, percantik lagi dirimu, tapi kalau kamu ingin laki-laki yang mau menerima kekuranganmu, kamu juga harus bisa menerima kekurangannya dia". Ucap kak Firman.

"Gitu ya kak" jawabku singkat.

"Iya Lia, karena menurutku, Tuhan memberi kita pasangan bukan yang menyempurnakan hidup kita, tapi pasangan yang bisa saling mengisi dan menutupi kekurangan kita". Kak Firman memberi penjelasan lagi.

"Aku sekarang ngerti kak" jawab Lia singkat.

"Kalau kamu sudah ngerti, itu habiskan makananmu dan kita pulang, kamu semalam tidur cuma sebentar kan?" Kak Firman mulai bawel.

"Iya kak, nggak bisa tidur" Jawab Lia cemberut, sambil mengunyah sisa makanan yang belum dihabiskan.

"Ya udah, santai aja, perjalananmu masih panjang, jangan kapok dan trauma kalau di dekati laki-laki, anggap saja pelajaran, jika kamu bisa lulus bakalan ada ilmu yang kamu dapatkan, dan akan ada pelajaran selanjutnya" kak Firman bangkit sambil tersenyum, mengusap-usap kepalaku dan menuju kasir.

Aku hanya bisa tersenyum dan membayangkan betapa beruntungnya pasangan kak Firman.

Akhirnya kami pulang karena waktu sudah memunjukkan jam 22:17 WIB pada jam tanganku dan kak Firman mengantar aku pulang ke kost.

"Kak, makasih ya untuk malam ini, dan terima kasih juga pelajarannya" Kami berjabat tangan sebelum kak Firman pulang ke rumahnya.

"Iya sama-sama, oya, aku bisa ngomong seperti tadi karena aku sudah berkali-kali menjalin hubungan dan akhirnya aku menemukan kenyamananku pada pasanganku ini. Semoga kamu juga segera mendapatkan pasangan yang dapat membuatmu nyaman" itu yang kak Firman katakan sambil melepas jabat tangan kami dan pergi di telan gelapnya malam. (End)

Belum ada Komentar untuk "Bintang yang tidak Sanggup Aku Petik"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel