Cerita Sebuah Helm INK dan Bensin 2 Liter

Cerita Sebuah Helm INK dan Bensin 2 Liter


Andriberbudi.web.id - Saya akan berbagi cerita tentang Sebuah Helm Ink dan Bensin 2 Liter, berawal ketika saya tidur siang tiba-tiba saya dibangunkan oleh kakak perempuan saya disuruh ngantarkan ibu, kakak, adik dan keponakan saya karena menunggu angkot ndak ada yang lewat.

Kakak saya berangkat mengunakan motor saya berboncengan dengan adik dan keponakan saya salsa (anaknya kakak saya), sedangkan saya memboncengkan ibu saya mengunakan motor adik saya yang laki-laki (ibnu).

Langsung saja, saya menuju blabak nganter ibu karena kakak saya sudah dahulu, dan sampai disana motor yang digunakan kakak saya di taruh di penitipan motor di blabak, sedangkan saya habis mengantarkan ibu saya langsung melaju pulang karena memang masih ngantuk. saya gas maksimal motor mio adik saya.

Sebuah Helm Ink dan Bensin 2 Liter dimulai dari sini. ketika saya sampai di desa treko, berjarak 2 desa dari rumah saya tiba-tiba motor yang saya kendarai tersendat-sendat, saya menduga karena gas yang saya turunkan terlalu dalam dan harus mengegas kalem, ternyata itu ndak berpengaruh sama sekali. langsung saya nyalakan sen atau reting ke kiri untuk turun dari jalan aspal.

Misuh-misuh kata yang saya ucapkan karena setelah buka tangki bensin ternyata sudah kosong sama sekali. kemudian saya clingak clinguk mencari pegadang bensin eceran, tapi masih terjadi satu masalah dikarenakan saya ndak bawa uang sama sekali, Jancok pie ki berkata dalam hati. Dan karena saya ndak kekurangan akal, saya pakai Helm Ink, pasti ini bisa jadi bensin.

Betul sekali, setelah kurang lebih dorong motor 100 meter dengan rasa jengkel dan kaki pegel (kemaren habis naik gunung lawu) saya menemukan pedagang bensin eceran. sebelum saya sampai tepat di depan warung penjual bensin itu, ibu yang berada didepan warung teriak "mbah, iki bensine di isike" saya mbaten "kok reti" namun tetap saja saya ndak peduli, setelah saya cagakkan motor mio yang saya gunakan, saya dekati nenek itu sambil bilang "mbah kulo mboten beto arto, kulo tiyang tampir wetan, pripun nek kulo ninggal helm niki rumiyen" sambil menunjukkan helm yang saya pegang, nah apa yang terjadi?
saksikan sesaat lagi (biar penasaran kayak yang di tivi-tivi itu lho) haha.

nenek itu tersenyum sambil berkata "nah nek ngene ki kan mas'e iso dipercoyo", saya jawab dengan singkat "ngih mbah". lalu saya bertanya pada mbahnya "mbah, nek kaleh liter pinten?" karena saya melihat botol yang satu liter sudah kosong, mbahnya jawab "enam belas ribu mas, meh di isi loro sisan po mas?" saya balik bertanya "angsal mbah?" mbahnya menjawab dengan singkat "angsal kok mas, aku percoyo koe gek butuh tenan". saya lega dan bersyukur karena kesungguhan saya membuahkan hasil. setelah di isi helmnya berpindah tangan ke nenek yang baik hati itu. saya ucapkan terima kasih dan meluncur pulang untuk ambil uang.

sekitar 10 menit kemudian saya sampai kembali di warung tersebut untuk membayar bensin yang tadi.
sampai disana ibu itu bilang "kok cepet mas?" saya jawab "ngih buk", ibu itu kembali bertanya "omahe ngendi to mas?" saya kembali menjawab "tampir wetan buk". kemudian saya ulungkan uang 20ribu dan ibu itu langsung mengambil kembalian dua ribuan dua lembar sambil berteriak "MBAHHH.... helm'e delehke ngendi?" lalu mbah itu keluar sambil membawa helm yang saya tukar dengan bensin 2 liter dan ngandani saya sambil tersenyum "iki mas helm'e, nah nek ngene ki kan sampean iso di percoyo, sesok-sesok kudu ngunu mas, ben iso di percoyo" saya jawab "ngih mbah, maturnuwun (langsung teringat nenek saya, yang asik diajak curhat, dan selalu memberi masukan dan nasehat". setelah selesai semua saya ucapkan kembali terima kasih karena telah percaya dengan diriku ini.

Saya menulis ini karena ingin berbagi pengalaman, bukan mengajarkan. Jika kita dapat meyakinkan dengan niat yang tulus keajaiban akan datang. (lebay yo luweh).

Belum ada Komentar untuk "Cerita Sebuah Helm INK dan Bensin 2 Liter"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel