Menikmati Kopi Merapi dan Bonusnya

10 tahun hilir mudik di jogja belum pernah Minum Kopi Merapi kan parah banget pokoknya. Pernah beberapa kali di ajak teman kesana tapi ndilalah kok ya pas tidak bisa. Alhasil cuma bisa membayangkan jalan menuju lokasi dan aroma kopi merapi yang pahit ditemani kabut manja yang diam-diam menyusup ke dalam tubuh.

Kopi Merapi
Kopi Merapi
Tanpa ada rencana kesana, akhirnya bisa kesana juga. Awalnya aku lagi cari kerja dan mampir bekas kostku dulu, nunut wifian, penghematan kuota. Sesampainya disana buka laptop dan mengerjakan kerjaan semalam yang belum selesai. Tiba-tiba handphone ku bergetar, ternyata temanku sebut saja Isma (dia laki-laki asli klaten) ngajakin hunting foto. "Mbah, ayo hunting foto, ning daerahmu (bantul) apik to", karena aku orangnya fast respon langsung tak jawab, "besok aja, aku sekarang lagi di maguwo".

Singkat cerita akhirnya dia menghampiri aku di kostannya si Babe Sableng. Si bapak kost yang makin tua makin muda bercandanya. Sedikit cerita, sebelum membahas Kopi Merapi dan Bonusnya. Kemarin ada anak kost situ bawa teman, pengen cari kost, si Babe Sableng itu tanya ke temanku yang kost disitu, "Kae koncomu ngeleleng ora?" Lantas temanku itu tanya ke si pencari kost, "cok,  koe ngeleleng ora, si babe takon soale" si bocah pencari kost mbok ya nakal sekalipun bakalan ngomong tidak, Lalu temanku itu teriak "Be, koncoku ra ngeleleng!" Si babe menjawab "ra oleh kost kene, ngolek liane wae, wong ra ngeleleng!". Kan bajigur sekali.

Melanjutkan Cerita tentang Kopi Merapi, akhirnya temanku Isma sampai di kost, dan kenapa aku mau diajak hunting foto sama dia, sederhana saja, karena pas dia WA ngomong engko tak gawakke kamera mbah. Meskipun aku lagi ngerjain sisa pekerjaan semalam tapi kalau diajak hunting foto ya berangkatlah, meski masih kelas amatiran yo tetep tak gas. Ayo! Akhirnya dia ngajak ke kopi merapi, katanya view-nya bagus.

Sesampainya disana setelah perjalanan kurang lebih 30-40 menit, dan kami langsung mencari tempat duduk dan memesan "Pesen opo mbah?" Tanya dia, tak liatin daftar menu kopi merapi dari atas sampai bawah sampai 2x. Dan keputusanku jatuh pada Arabica Merapi dan Pisang Goreng. Sambil menunggu pesanan datang aku clingak clinguk mencari sosok merapi, ternyata kata Isma sedang tertutup kabut. Tak selang berapa lama kabut pergi dan jeng jeng... Bonus Kopi Merapi terlihat, ya Gunung Merapi sebagai bonus karena telah datang kesini. Jadi teringat beberapa tahun lalu sempat mendaki gunung merapi bersama teman kuliah. Isma langsung bergegas membuka tas kameranya dan siaga buat foto-foto. Pesanan datang, dan ku coba seruput kopi arabika merapi, sejujurnya Kopi Arabika Merapi dan Arabica Prau tak jauh beda, tapi ada rasa khas tersendiri di setiap Kopi yang susah dijelaskan, seperti halnya Cinta, Halah.

Kopi Merapi dan Pisang Goreng
Kopi Merapi dan Pisang Goreng
Ku Nikmati Kopi Arabika Merapi ditemani Pisang Goreng dan teman-teman, ada rokok 76 kretek dan MLD black, nikmat sekali, cocok untuk melepas lelah, gundah bahkan resah. Betapa tidak ada pahit, manis dan hawa dingin yang di temani kabut tipis. Andaikan kopi itu aku dan pisangnya kamu, dingin dan kabut tipis adalah romantisme kita berdua. Di sisi lain kopi dan pisang goreng adalah dua insan yang saling melengkapi tapi tak bisa bersatu, klik disini untuk membaca lengkap.


Setelah merapi tak diselimuti kabut kami pindah tempat duduk yang diluar untuk mencari pemandangan yang bagus. Oya Rumah Kopi Merapi juga menyediakan Kopi buat dinikmati dirumah.

Posting Komentar

0 Komentar