Sepucuk Surat untuk Pagi


Selamat Pagi,

Terima kasih untuk kedatanganmu yang selalu tepat waktu, ya itu memang yang selalu ku tunggu.

Aku selalu menyukaimu, meski kau tak pernah membawakan makanan kesukaanku atau kopi hitam yang selalu ku nikmati bersama pelukan hangatmu. 

Aku selalu menyukaimu, bukan karena kamu cantik, tentu saja bukan. Karena di luar sana gadis-gadis cantik begitu banyak namun tak ada yang sepertimu, yang selalu datang menyapaku, menebar senyum manismu ya walaupun terkadang berwajah sendu, tetap saja aku menyukaimu, selalu tepat waktu. 

Aku juga selalu menyukaimu, senyum manismu bahkan wajah sendu itu tak pernah selalu menipu. Aku cukup tahu itu, kau tunjukkan saja cahaya yang selalu kau bawa agar seisi bumi tahu betapa manisnya dirimu, namun aku selalu berharap tak akan terlihat wajah sendu itu, aku terlalu khawatir dengan hal itu, dan tolong jangan teteskan air matamu, ribuan pasang mata yang rela menahan rindu hanya akan tertunduk lesu. 

Aku ingin menunjukkan padamu sesuatu, lihatlah diatas bukit kecil itu, kakek dan nenek itu telah menunggumu sejak gelap, mereka menaiki bukit kecil itu terendap-endap hanya ingin melihatmu lebih tinggi dari yang lainnya, karena kakek itu ingin menunjukkan sesuatu. 

Di perjalanan menuju bukit itu kakek berbisik kepada wanita yang disampingnya dengan nada suara berat "kekasihku aku ingin menunjukkan betapa cantiknya dirimu dahulu". Wanita disampingnya merupakan pasangan hidupnya, nenek itu setengah terkejut sambil berkata "kenapa harus menaiki bukit ini? cukup lihat di album foto kita pacaran dahulu masih ada kan" seru nenek itu. Kakek itu menjawab singkat "lihat saja nanti, akan ku ceritakan semuanya"

Setelah menunggu beberapa jam akhirnya kamu datang dengan wajah sendu, tentu saja kakek cukup kecewa dan langsung menuntun nenek untuk pulang kerumah, melalui turunan bukit yang masih tanah dan berbatu, sang kakek selalu menggengam erat tangan itu, wajah kakek itu menunjukkan betapa dia sangat menyukai nenek dan tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi, "hati-hati sayang, ku akan selalu menjaga dan melindungimu dirimu kekasihku", seperti itulah kekawatiran yang tersirat diwajah tua itu. 

Hari berikutnya, dipagi yang masih gelap seperti kemarin kakek kembali mengajak nenek menaiki bukit kecil itu. Setelah menunggu penuh harap akhirnya sepasang kekasih tua itu melihatmu tersenyum, kakek itu berteriak sambil batuk-batuk kecil berkata ini... ini... ini kekasihku yang ingin aku tunjukkan padamu, sambil mengenggam jemari nenek dan berkata, lihatlah kesana, itu cukup cantik bukan, menghangatkan juga kan? sang nenek hanya mengangguk tanda setuju. Ini sayang, ini kekasihku, yang sejak kemarin ingin aku katakan padamu, kecantikanmu seperti ini, tak ada yang tertutupi, seperti sang pagi, meski terkadang wajahmu murung.

 Aku menyukaimu seperti ini seperti mentari yang dibawa pagi, penuh warna warni, semangat yang sudah kembali terisi, membangunkan yang masih bermimpi.

Satu hal yang harus kamu tahu kekasihku, kakek itu berkata sambil setengah memeluk kekasihnya (nenek) dan berkata perlahan "Aku menyukaimu seperti mentari yang dibawa oleh sang pagi, selalu datang setiap hari, meski terkadang cukup menjengkelkan tapi tak pernah ingkar janji selalu datang tepat di pagi hari. Aku menyukaimu seperti mentari yang hadir bersama sang pagi, selalu dan selalu datang setiap hari hingga aku mati". Sambil mencium kening nenek, kakek itu terdiam dan kian erat memeluk nenek kekasih hatinya itu. Hingga akhirnya kamu pergi dan sepasang kekasih tua itu kembali kerumah dengan rasa kebahagiaan luar biasa.

Pagi, mungkin ini akan menjadi suratku yang pertama dan terakhir. Karena setelah ini aku hanya ingin menikmatimu, melihat wajahmu bagaimanapun itu. 

terima kasih telah berkenan membaca suratku. tak perlu dibalas, aku hanya ingin menunjukkan saja padamu.

Belum ada Komentar untuk "Sepucuk Surat untuk Pagi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel